Thursday, November 12, 2015

Ritual Pemasangan Hena dalam Pernikahan Tradisional di Indonesia


Hena yang berasal dari bahasa Arab yaitu Hinna memiliki arti dedaunan yang dapat meninggalkan warna merah di kulit . Orang Indonesia biasa menyebutnya dengan istilah Innai.

Budaya mewarnai jemari pengantin dengan hena, ternyata tak hanya ada di India. Dalam balutan baju pengantin, seringkali kita jumpai hena turut mempercantik tampilan sang mempelai wanita.

Masyarakat Indonesia juga memiliki adat yang melibatkan penggunaan hena pada upacara pernikahannya.

1. Malam Bainai
Dalam bahasa Minangkabau, istilah Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah dan dipulaskan ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita.

Tumbukan halus daun inai didiamkan semalam dan akan meninggalkan warna merah yang cemerlang pada kuku.

Dalam adat Minang, mengawinkan seorang anak gadis untuk pertama kalinya dianggap begitu sakral. Semua keluarga dan tetangga ingin menunjukkan partisipasi dan rasa perhatian pada keluarga yang sedang mengadakan acara adat.

Acara malam bainai dilangsungkan malam hari di mana semua tetangga dan kerabat berkumpul untuk saling bersilaturahmi sebelum menggelar pesta pernikahan keesokan harinya.

2. Mapacci
Daun pacar atau yang dikenal sebagai daun pacci dalam adat Bugis-Makassar dinamakan dengan Pacci yang terkait dengan Paccing yang dalam bahasa Bugis disebut suci.

Dengan demikian, pelaksanaan upacara mapacci menggambarkan upacara pernikahan yang suci.

Acara Mapacci sendiri dilaksanakan saat acara Tudang Mpenni, menjelang pelaksanaan akad nikah di keesokan harinya. Setelah acara mapacci, calon mempelai diharapkan memiliki kesucian hati untuk memasuki bahtera rumah tangga di keesokan harinya. Warna pacci yang merah dan sulit hilang juga muncul sebagai simbol pernikahan yang kekal dan langgeng.

Acara mapacci dipenuhi dengan doa yang khidmad dan restu dari para kerabat yang hadir. Selain itu juga perlu dihadiri oleh 9 pasang sesepuh yang berasal dari keluarga ayah dan ibu mempelai.

3. Berinai Curi
Acara berinai yang dilangsungkan oleh masyarakat Riau cukup unik karena di malam calon pengantin menjalankan upacara ini, peralatan berinai yang telah dipersiapkan di rumah calon pengantin wanita secara diam-diam akan dibawa ke rumah calon pengantin laki-laki untuk berinai.

Cara membawa inai dengan diam-diam inilah yang menjadikan malam berinai di Riau ditambah dengan kata Curi.

Upacara adat pernikahan tersebut dilakukan tiga hari menjelang pernikahan, malam berinai harus diawali oleh Mak Andam atau perias pengantin wanita untuk mempersiapkan peralatan berinai.

Upacara berinai sendiri mengandung maksud untuk menolaj bala sebelum pernikahan terjadi. Tak hanya di jemari dan di kuku, inai juga dipakaikan di telapak tangan sebagai tanda penjaga diri dan dipakaikan juga di telapak kaki agar tak berjalan jauh sebelum upacara pernikahan dimulai. tribunnews

Ini Penyebab Maraknya Pernikahan Dini


Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Plan Internasional, di Indonesia masih banyak terjadi pernikahan pada anak dan remaja. Sebanyak 38 persen anak perempuan di bawah usia 18 tahun sudah menikah. Sementara persentase laki-laki yang menikah di bawah umur hanya 3,7 persen.

Ternyata, ada beberapa penyebab yang mendorong mereka melakukan pernikahan dini. Penelitian terbaru yang dilakukan Plan International dalam rilis yang diterimaLiputan6.com di Jakarta, Kamis (12/11/2015) membuktikan kuatnya tradisi dan cara pandang masyarakat, terutama di pedesaan, masih menjadi pendorong bagi sebagian anak perempuan menikah dini.

Penelitian ini menunjukkan pernikahan anak, termasuk yang berusia 12-14 tahun, masih terjadi karena adanya dorongan dari sebagian masyarakat, orangtua, atau bahkan anak yang bersangkutan.

Hasil penelitian yang menjadi dokumen laporan Plan International bertajuk 'Getting the Evidence: Asia Child Marriage Initiative' ini dilakukan Plan dan lembaga penelitian berbasis di Inggris, Coram International di Indonesia, Banglades dan Pakistan.

Hasil penelitian menyimpulkan, penyebab utama pernikahan anak adalah rendahnya akses pendidikan, kesempatan di bidang ekonomi, serta kualitas layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi, terutama untuk anak perempuan. Selain itu tingkat kemiskinan juga turut menentukan situasi pernikahan anak.

Di beberapa wilayah survei, masih ada pembenaran tindak kekerasan seksual yang dilakukan laki-laki. Di kalangan laki-laki di Banglades misalnya, ada anggapan mereka harus menikahi perempuan yang jauh lebih muda.

Dengan demikian, mereka bisa mengatur sang istri, dan mereka yakin dengan begitu hasrat seksual mereka juga terpenuhi. Sebaliknya, jika anak perempuan tidak segera menikah, maka dia akan menjadi gunjingan atau dianggap tidak laku.

Diskriminasi Gender

Selain Indonesia, ada 2 negara yang disurvei. Hasilnya, perkawinan usia anak paling parah terjadi di Banglades, di mana 73% anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sebanyak 27% anak perempuan berusia 12 sampai 14 tahun sudah menikah. Sedangkan laki-laki di usia yang sama, yang menikah hanya 2,8%.

Pakistan adalah yang terendah, di mana hanya 34,8% saja anak perempuan usia di bawah 18 tahun yang menikah, dengan 15,2% menikah di bawah usia 15 tahun.

Direktur Regional Plan International Asia Mark Pierce mengatakan, pernikahan usia anak terus terjadi karena kuatnya diskriminasi gender, ketergantungan ekonomi anak perempuan, serta kuatnya tradisi.

"Namun penelitian ini menunjukkan perubahan sikap atas penerimaan pernikahan anak bukanlah tantangan yang tidak dapat diatasi. Kombinasi dari pendidikan, pemberdayaan ekonomi, akses layanan kesehatan reproduksi, dan penegakan hukum dan kebijakan perlindungan anak akan menghasilkan perbedaan substantif," jelas Mark.

Laporan ini juga menyimpulkan intervensi dari LSM, kelompok-kelompok masyarakat, pemerintah, serta dukungan di tingkat perorangan, keluarga dan masyarakat akan memberikan dampak positif. (Nil/Sss) liputan6

Monday, November 2, 2015

5 Hal yang perlu diperhatikan saat mengatur budget pernikahan


Ketika akan merencanakan pernikahan, menyusun budget adalah hal yang harus dilakukan sesegera mungkin. Kalkulasi apa saja yang perlu dibayar, sistem pembayaran, hingga pembagian pihak yang akan membayar dengan jelas dan tepat. Karena masalah keuangan di pesta pernikahan adalah permasalahan yang krusial dan sensitif.
Berikut ini poin-poin yang perlu kamu perhatikan dan cermati sebelum menyusun anggaran pesta pernikahan.
1. Sebelum Hari Pernikahan
Jangan lupa bahwa ketika mengatur anggaran, bukan keperluan pesta pernikahan saja yang harus dipikirkan. Banyak hal-hal yang harus jadi pertimbangan seperti uang yang sudah terpakai untuk membeli cincin pertunangan misalnya. Atau jika kamu dan teman ingin mengadakan pesta melepas lajang, walaupun semua biaya ditanggung oleh para sahabat kamu, selalu ada kemungkinan kamu perlu untuk ikut patungan membayar minuman atau transportasi pulang.
2. Periksa Rundown Acara
Periksa rundown di hari pernikahan untuk melihat kebutuhan kecil yang kemungkinan muncul namun tak pernah terpikirkan sebelumnya. Misalnya biaya transportasi keluarga untuk berpindah-pindah dari tempat upacara pernikahan ke lokasi resepsi, hingga transportasi makeup artis. Atau jika seusai pernikahan kamu perlu untuk langsung ke bandara dan melanjutkan bulan madu.
3. Ketika Resepsi
Jangan lupa untuk menyusun biaya resepsi apa saja yang akan dihabiskan. Tetapkan skala prioritas, dari mulai gedung, dekorasi, katering, undangan, hingga souvenir pernikahan. Semuanya harus tak luput dari pencatatan. Termasuk biaya hiburan seperti sewa penampilan band, string atau DJ yang akan memeriahkan acara.
4. Perhatikan Detail
Perhatikan detail yang akan dihabiskan untuk mendandani diri kamu sendiri, pasangan, bridesmaid, hingga anggota keluarga. Untuk pengantin sendiri tak hanya baju pengantin, kamu membutuhkan makeup artist, aksesori rambut, sepatu hingga hal-hal kecil seperti bros untuk menyempurnakan penampilan.
Sesuaikan dengan pasangan kamu, hal detail pada penampilan terkadang dilewatkan dari pencatatan budget.
5. Setelah Resepsi
Selain hal lain sebelum resepsi dan ketika resepsi, tentunya ada kebutuhan setelah resepsi yang juga tak kalah memakan budget, yaitu bulan madu. Perhitungkan dengan jelas biaya penginapan, travel, berbagai tiket yang diperlukan, airport tax hingga biaya transportasi dan kebutuhan belanja yang akan dibutuhkan ketika sedang melakukan perjalanan bulan madu.
Buat yang jelas, karena kamu ingin menikmati bulan madu kamu, bukannya uring-uringan karena memaksakan budget.

4 Hal tak terduga yang mungkin terjadi di hari pernikahan


Semua vendor sudah dipesan, gaun pengantin sudah siap, kamu hanya tinggal mengucapkan janji setia bersama dengan pasangan. Namun, bagaimana kamu harus mempersiapkan diri secara emosional ketika ternyata ada hambatan yang datang di hari pernikahan?
Berikut ini beberapa hal tak terduga yang mungkin terjadi pada hari pernikahan dan bagaimana cara mengatasinya.

1. Terlambat

Walaupun sudah mengatur segala sesuatu dengan sempurna, selalu saja ada kejadian yang membuat perhitungan waktu jadi terlambat. Entah karena waktu makeup yang lebih lama dari jadwal sebelumnya, penghulu atau pendeta yang terkena macet, hingga jadwal yang terlalu padat.
Untuk mengatasinya, pastikan kamu bangun lebih pagi, agar bisa membantu mengatasi permasalahan yang mungkin terjadi.

2. Tak Berjalan Sempurna

Beberapa hal mungkin akan berjalan tidak sesuai dengan rencana, misalnya proses dekorasi pernikahan yang tertunda karena gedung baru saja dipakai untuk resepsi lainnya beberapa jam lalu, atau mungkin letak meja tidak sesuai seperti pesanan kamu.
Jika hal ini terjadi jangan panik, kamu hanya perlu menarik napas dalam-dalam dan mengingat bahwa tak semua orang memperhatikan detail seperti kamu.

3. Tak Ingin Makan

Kamu mungkin akan merasa sangat sibuk dan serba gelisah, sehingga untuk duduk dan memasukkan sesuatu ke dalam mulut pun rasanya jadi tak selera. Tapi jangan biarkan hal ini menguasai kamu. Setidaknya, makan sarapan praktis seperti roti, pastry kecil atau buah potong.
Jangan biarkan perut kosong, karena kamu akan menghabiskan waktu seharian di pesta yang menghabiskan banyak tenaga.

4. Ingin Menangis

Sangat wajar jika calon pengantin ingin menangis di hari pernikahannya, dan terkadang bukan hanya tangis haru saja. Kadang kamu memang ingin menangis frustasi karena tekanan yang bertubi-tubi dalam menyiapkan segala hal dan membuatnya menjadi sempurna.
Tetap rileks, dan ketika merasa ingin menangis tenangkan diri kamu. kamu bisa berbagi cerita dengan sahabat yang menjadi bridesmaid. Jangan lupa juga untuk menggunakan riasan serba waterproof agar makeup kamu tidak berantakan. merdeka.com

Tak Kuat Biaya Nikah, Pria Saudi Pilih Kawin Kontrak

Tak Kuat Biaya Nikah, Pria Saudi Pilih Kawin Kontrak

Para ahli mengatakan semakin banyak orang Arab Saudi yang memilih melakukan pernikahan 'misyar' dengan alasan biaya.

Misyar merupakan jenis pernikahan kontrak yang biasanya dilakukan secara adat Islam dengan ketentuan pasangan menyerahkan hak tertentu dari pernikahan normal. Hal itu misalnya, hidup bersama, hak istri untuk tempat tinggal dan hak suami untuk mengurus rumah tangga.

Konsultan keluarga, Nasser Al-Thubaiti mengatakan kebanyakan laki-laki muda tidak memiliki sarana untuk menikah sementara sebagian besar perempuan muda memiliki harapan tinggi terhadap pernikahan mereka.

Ia mengatakan, tingkat perceraian meningkat dan tingkat poligami menurun. Sebab, sekarang semakin banyak para petugas pernikahan bersedia menandatangani kontrak pernikahan misyar.

"Ini adalah cara bagi pria untuk menikah tanpa memiliki kewajiban mahar dan membiayai keluarga," ujarnya dikutip dari Saudi Gazette, Kamis (29/10).

Sultan Al-Saleem, seorang petugas pernikahan mengatakan banyak pertunangan dibatalkan dan sedang menjadi tren. Ia menuturkan ada beberapa alasan yang menyebabkan kegagalan tersebut.

Salah satunya pasangan yang tidak terbuka tentang kondisi mereka di awal perjanjian. Menurutnya, pria biasanya tidak mampu membayar mahar atau biaya pernikahan dan membuat putusnya pertunangan.

"Alasan lain adalah ketika orang tua memaksa anak perempuannya menerima seorang pria yang bertentangan dengan keinginan anaknya," katanya.

Pernikahan yang dipaksakan ini menciptakan ketegangan dan ketidakbahagiaan dalam suatu hubungan. Hal tersebut diakui Saleem membuat perceraian cepat terjadi.

Ia menambahkan, dalam beberapa kasus pasangan setuju untuk menikah karena saling tahu satu sama lain tapi terkejut dengan fakta dan perilaku yang tidak sesuai.

Banyak pria menjadi tidak sabar atau tempramental selama atau setelah pertunangan mereka. Dalam beberapa kasus, pasangan dipaksa membatalkan pernikahan karena mereka tidak dapat menyelesaikan dokumen resmi pernikahan kepada para petugas.

Jika Ingin Harmonis Katakan Ini


Jika Ingin Harmonis Katakan Ini

Berdasarkan sebuah penelitian, jika menginginkan pernikahan yang harmonis, mengungkapkan rasa terima kasih kepada pasangan mungkin adalah cara terbaik.

Menurut para peneliti di University of Georgia, mengatakan "terima kasih" dan menunjukkan penghargaan, dapat menjadi penghalang terjadi nya perceraian yang efektif, serta akan menentukan seberapa besar komitmen pasangan dalam hubungan mereka.

Perasaan bersyukur juga bisa menangkal terjadi nya konflik dan pengalaman negatif yang tidak diinginkan, kata para peneliti.

"Studi ini menunjukkan kepada pasangan tentang kekuatan ucapan 'terima kasih'," kata Allen Barton, penulis utama penelitian dari Pusat Penelitian Universitas Georgia untuk Penelitian Keluarga, dalam jurnal Personal Relationships.

Ditambahkan oleh dia, bahkan jika pasangan mengalami kesusahan dan kesulitan, ucapan tersebut dapat mengurangi tekanan dan membuat mereka merasa diperhatikan, dilansir dalam laman Independent Sabtu (31/10).

Misalnya, mengucapkan terima kasih saat pasangan mau membantu pekerjaan rumah tangga, atau ketika mereka dengan sukarela membuatkan minuman favorit.

Kepedualian pada pasangan yang diungkapkan lewat hal-hal kecil, memang berdampak positif pada kehidupan percintaan. Studi ini mengajukan beberapa pertanyaan kepada sekitar 468 orang yang telah menikah tentang kesejahteraan keuangan, apakah mereka tipe 'penuntut' atau 'tidak peduli' dalam mengekspresikan rasa peduli kepada pasangan.

Rasa syukur, diukur lewat seberapa dihargai seseorang oleh pasangan mereka. Hal ini ternyata merupakan alat prediksi paling konsisten untuk menilai kualitas pernikahan. Mengatakan 'terima kasih' dan sikap menghargai juga bisa memperbaiki siklus komunikasi yang buruk ketika pasangan sedang tertekan.

"Kami menemukan, bahwa ketika pasangan sedang mengalami konflik, ungkapan terima kasih dan penghargaan bisa menangkal atau mencegah efek negatif ketidakstabilan pernikahan. Studi ini penting, sebab menyoroti cara praktis yang membantu pasangan memperkuat hubungan mereka, terutama jika mereka tengah berada dalam konflik," kata rekan penulis Ted Futris dari College of Family and Consumer Science.